Hubungi Kami
News

Perpustakaan Digital dengan 3rb+ Buku Unik Termasuk Buku Teks dan Buku yang Disetujui Pemerintah untuk Setiap Sekolah: Jelajah Baca Menghadirkan Peminjaman Berlisensi ke Perangkat Sekolah Bersama

News published on 26 August, 2026

MST/Intan Pariwara Edukasi mengumumkan peluncuran Jelajah Baca, sebuah perpustakaan digital dengan 3rb+ buku unik termasuk buku teks dan buku yang disetujui pemerintah di Indonesia.

Apa itu Jelajah Baca?

Jelajah Baca adalah perpustakaan digital berbasis browser yang dilisensikan untuk sekolah, bukan kepada siswanya. Setiap sekolah mengaksesnya melalui akunnya sendiri, dengan nama dan logonya sendiri yang muncul di layar sebelum siapa pun masuk, dan katalognya sendiri di baliknya.

Anak-anak masuk dengan akun kelas bersama — satu login untuk satu kelas, tanpa alamat email dan tanpa kata sandi pribadi. Tidak ada data pribadi yang dikumpulkan dari anak pada titik mana pun, dan sekolah dengan empat puluh kelas mengelola kira-kira empat puluh akun, bukan ratusan.

Peminjaman diatur oleh kode peminjaman yang ditetapkan oleh sekolah. Tanpa kode tersebut, tidak ada buku berlisensi yang dapat dibuka. Guru menentukan kapan koleksi dapat digunakan, dan kode tersebut dapat diubah kapan saja sesuai keinginan sekolah.

Platform ini berjalan di perangkat yang sudah dimiliki sekolah. Antarmukanya dirancang untuk Chromebook dan koneksi internet sekolah di Indonesia — dengan sampul besar, teks berukuran besar, serta rak buku yang dapat digulir ke samping — dan dibuat agar anak berusia tujuh tahun saja dapat menemukan buku tanpa bantuan.

Bagaimana cara kerja Jelajah Baca?

  • Sekolah mendapatkan akun khususnya sendiri. Nama dan logo sekolah ditampilkan sebelum login, sehingga anak-anak masuk ke halaman yang terasa milik sekolah mereka sendiri, bukan ke platform produk yang umum.
  • Satu kelas masuk menggunakan satu akun. Tidak ada email, tidak ada kata sandi pribadi, dan tidak ada informasi yang harus diingat atau dikhawatirkan hilang oleh anak. Jika dua kelas masuk secara bersamaan, keduanya menjadi dua sesi terpisah, masing-masing dengan aktivitas peminjaman sendiri.
  • Anak meminjam buku menggunakan kode sekolah. Satu tempat membaca akan digunakan, dan jumlah tempat yang masih tersedia terlihat di halaman tersebut — sehingga kelas dapat melihat koleksi seperti mereka melihat rak buku.
  • Buku terbuka dengan penghitung waktu sesi. Buku tersebut menjadi milik mereka selama mereka membacanya, sama seperti buku yang dipinjam.
  • Tempat membaca akan kembali tersedia secara otomatis. Saat buku dikembalikan, saat pengguna keluar, atau ketika perangkat ditutup dan sesi berakhir. Tidak ada tempat membaca yang akan terus terpakai hanya karena tab browser terlupakan.
  • Beberapa buku tidak perlu dipinjam. Publikasi milik sekolah dan karya klasik yang berada dalam domain publik dapat langsung dibuka dan tidak menggunakan tempat berlisensi.

Lisensi adalah produknya

Bagian yang membuat semuanya berjalan adalah model komersialnya, dan penting untuk menjelaskannya dengan jelas: sekolah membayar berdasarkan jumlah pembaca secara bersamaan, bukan berdasarkan jumlah salinan buku.

Sebuah sekolah dapat memiliki lisensi untuk sepuluh tempat siswa dan tiga tempat guru. Sepuluh anak dapat membaca secara bersamaan; anak ke-11 harus menunggu sebentar hingga sebuah buku tersedia kembali. Biaya mengikuti aktivitas membaca yang benar-benar dilakukan sekolah, bukan jumlah siswa yang terdaftar. Dengan demikian, sekolah kecil tetap dapat memiliki katalog buku yang lengkap, bukan koleksi yang terbatas.

Tiga hal penting yang perlu diperhatikan dalam penggunaan sehari-hari.

Guru memiliki kuota terpisah. Panduan guru menggunakan tempat baca mereka sendiri, sehingga ketika satu kelas membaca materi pelajaran, akses guru tidak akan habis — dan guru yang sedang mempersiapkan materi pada saat yang sama tidak akan mengambil tempat baca dari siswa.

Tempat baca kembali tersedia tanpa perlu dikelola oleh siapa pun. Buku akan kembali tersedia saat dikembalikan, saat pengguna keluar, atau ketika sesi berakhir. Tidak ada yang perlu mengejar peminjaman yang terlambat, karena tidak ada peminjaman yang tertunda.

Batas penggunaan ditentukan oleh lisensi, bukan oleh sekolah. Jumlah tempat baca ditetapkan berdasarkan perjanjian lisensi, bukan melalui pengaturan yang dapat diubah oleh administrator. Hal inilah yang membuat penerbit bersedia memasukkan materi terbaru ke dalam koleksi sejak awal.

Tiga peran, satu koleksi

Siswa menjelajahi rak buku, melakukan pencarian, atau menjelajahi berdasarkan mata pelajaran dan tingkat kelas; meminjam, membaca, dan mengembalikan buku.

Guru dapat melihat semua yang dilihat siswa, ditambah panduan guru yang tidak pernah muncul di layar siswa — materi tersebut tidak dikirim ke perangkat siswa, bukan sekadar disembunyikan dari tampilan. Guru juga dapat memposting pengumuman yang muncul di halaman utama setiap anak.

Administrator sekolah mengelola perpustakaan sehari-hari: membuat dan mengelola akun kelas, menetapkan kode peminjaman dan jumlah buku yang dapat dipinjam seorang anak sekaligus, melihat buku yang sedang dipinjam, serta mengembalikan buku jika perangkat ditutup saat siswa masih membaca.

Cara menggunakan Jelajah Baca secara efektif

  • Tetapkan kode peminjaman yang mudah diingat oleh kelas, dan ubah setiap semester. Kode ini merupakan bagian dari rutinitas kelas, bukan sebagai langkah keamanan — enam karakter yang dapat disebutkan dengan lantang di awal pelajaran.
  • Masukkan materi milik sekolah sejak awal. Buku tahunan, buku panduan siswa, kalender akademik, serta kumpulan karya tulis siswa. Materi tersebut tidak menggunakan tempat berlisensi, dan perpustakaan yang memuat karya sekolah sendiri akan lebih sering digunakan.
  • Anak-anak dapat memulai dari rak gratis. Buku klasik dan publikasi sekolah tidak memerlukan peminjaman, sehingga kunjungan pertama anak dapat langsung berakhir dengan membaca, bukan terhenti karena kode yang belum mereka miliki.
  • Sesuaikan jumlah tempat baca dengan kelas, bukan dengan jumlah seluruh siswa di sekolah. Penggunaan bersamaan bergantung pada berapa banyak orang yang membaca pada waktu yang sama. Satu kelas yang membaca bersama adalah unit utama yang perlu dipertimbangkan saat menentukan jumlah tempat baca yang akan dilisensikan.
  • Gunakan pengumuman untuk keperluan perpustakaan, bukan untuk segala hal. Pengumuman tentang minggu membaca atau judul buku baru akan muncul di tempat yang memang sudah sering dikunjungi anak-anak. Papan yang dipenuhi pengumuman umum justru akan berhenti dibaca.
  • Biasakan mengembalikan buku setelah selesai membaca. Dorong anak-anak untuk mengembalikan buku ketika mereka berhenti membaca daripada membiarkan tab tetap terbuka. Ini merupakan kebiasaan yang sama seperti di perpustakaan fisik, dan di sini pengembalian tersebut langsung membuat tempat baca tersedia untuk teman sekelas lainnya.

Dengan melisensikan jumlah pembaca secara bersamaan, bukan jumlah salinan, Jelajah Baca memungkinkan sekolah memiliki koleksi yang mungkin tidak mampu mereka beli dengan model lain. Koleksi tersebut juga dapat berfungsi seperti perpustakaan pada umumnya — buku dipinjam, dikembalikan, lalu tersedia untuk anak berikutnya. Platform ini tidak memerlukan apa pun dari siswa selain perangkat yang sudah dimiliki sekolah, serta tidak memerlukan apa pun dari anak-anak selain kode kelas dan kode peminjaman.

Jelajah Baca tersedia di jelajahbaca.com. Sekolah dapat menjadwalkan sesi demo untuk melihat seluruh pengalaman siswa, guru, dan administrator, serta mendiskusikan jumlah tempat baca berlisensi yang sesuai dengan kebutuhan membaca mereka.